Kamis, 09 Mei 2013


EKSPOR MIGAS DAN SEBARANNYA

Ekspor Migas di Indonesia dilakukan sejak ditemukannya minyak dan dikembangkan awal abad ke 19 oleh pemerintah belanda. Menariknya adalah seluruh lapangan minyak yang ada sekarang sebagian besar merupakan kelanjutan dari lapangan minyak yang ditemukan pada zaman pemerintah belanda. Sehingga tidak aneh bahwa penguasaan produksi migas tetap di kuasai oleh perusahaan asing.

Ekspor minyak mentah sebelum tahun 2000 , dilakukan karena kilang minyak di Indonesia kapasitasnya lebih kecil dari produksi minyak mentah. Sekarang produksi minyak cendrung menurun, terutama sumur minyak yang menjadi sumber pasokan kilang , sehingga pada kilang terjadi kekurangan pasokan minyak mentah, dan kekurangan ini di impor. Dan minyak yang di ekspor tetap di ekspor karena spesifikasinya kurang cocok dengan minyak yang digunakan di kilang.

Ekspor migas di Indonesia dibagi dalam 3 kelompok. Yaitu : (1) ekspor minyak mentah, (2) ekspor BBM, dan (3) ekspor non BBM.

Ekspor Minyak mentah
Minyak mentah dan kondensate tahun 2012 ekspor sebesar 15,6  juta ton,atau 31 persen dari ekspor migas.  dengan nilai 12,7 milyar USD atau 32 persen, yang bersumber dari beberapa daerah .  Besarnya ekspor minyak dari daerah Sumber, mencerminkan besarnya kapasitas produksi dari lapangan minyak yang berada  dekat pelabuhan ybs.

Ekspor minyak bersumber dari 11 provinsi dengan 20 pelabuhan ekspor.  Yaitu (1) provinsi Riau ( pelabuhan Dumai dan sungai pakning), (2) provinsi Kalimantan Timur ( pelabuhan tanjung santan, senipah, dan Balikpapan), (3) provinsi kepulauan Riau ( pelabuhan udang natuna),   (4)  Jawa Barat ( pelabuhan Arjuna java, Cinta Java, dan Balongan),   (5) provinsi jambi ( pelabuhan muara sabak), (6) provinsi Jawa Timur ( pelabuhan Tuban, gresik, sampan, dan kalianget),  (7) provinsi Bangka Belitung ( pelabuhan Muntok), (8) Provinsi Irian Jaya Barat ( pelabuhan bintuni, dan Sorong), (9) provinsi  Sulawesi Tengah ( pelabuhan Posso ), (10) provinsi Aceh ( pelabuhan blang lancing), (11)  Provinsi Maluku ( pelabuhan Ambon ).

Eksportir terbesar dari daerah Provinsi Riau, yaitu sebesar 6,8 juta ton, atau 43 persen ( pelabuhan Dumai 6,7 juta ton, S.pakning 0,1 juta ton ).  senilai 5,7 milyar USD, atau 44.7  persen dari ekspor minyak mentah.
Eksportir terbesar kedua adalah provinsi Kalimantan Timur sebesar 2,9 juta Ton, atau 19 persen (  pelabuhan tanjung santan = 1,6  juta ton, senipah 1,2  juta ton, dan Balikpapan 0,1 juta ton ), dengan nilai 2,4  milyar USD.

Eksportir ketiga terbesar adalah kepulauan Riau sebesar 1,4 juta Ton atau 9,1 persen dari pelabuhan Udang Natuna, senilai 1,2 milyar USD, atau 9,3  persen,
Eksportir keempat terbesar Prov Jawa barat sebesar 1,1  juta ton ( dengan pelabuhan Arjuna java, Balongan, cinta java ), atau 6,8  persen,  senilai 0,8 milyar USD atau 6,3 persen.
Daerah eksportir lainnya ( daerah Jambi, Jawa Timur, Bangka Belitung, Irian jaya Barat, Nangroe Aceh Darussalam, Maluku, Sulawesi Tengah ) 21,8 persen dari total ekspor minyak metah.

Ekspor BBM
Indonesia kekurangan pasokan BBM, karena kebutuhan akan BBM cendrung meningkat, sedang kapasitas kilang relative tetap ( selama belum ada pembangunan kilang baru). Kekurangan pasokan BBM ditutupi dengan impor. Ekspor dilakukan karena Indonesia terikat dengan perjanjian beberapa Negara untuk memasok BBM, oleh karena itu angka ekspor relative kecil .

Ekspor  BBM sebesar  1,0 juta Ton atau 3 persen, senilai 0,7 milyar USD atau 3 persen dari total ekspor migas. Ada 8 daerah peng ekspor BBM, yaitu : (1 ) Sumatra Utara, (2) Kalimantan Timur, (3)Jawa Tengah, (4) Banten, (5) Nusa Tenggara Timur, (6) Jawa Timur, (7) DKI Jakarta, (8) Kepulauan Riau.

Daerah terbesar ekspor BBM adalah (1)  Sumatra Utara 468 ribu Ton, atau 45 persen dari total ekspor BBM, (2) Kalimantan Timur 338 ribu Ton  atau 33 persen, (3) Jawa Tengah 134 ribu ton atau  13 persen , (4) Banten 52 ribu ton atau 5 persen, (5) Nusa Tenggara Timur 36 ribu ton atau 3,5 persen lainnya 8 ribu ton atau 0,8 persen.

Ekspor Non BBM
Ekspor Non BBM sebesar 32,3 juta Ton atau 66 persen dari total ekspor migas indonesia, senilai 23,5 milyar USD atau 63 persen. dari jumlah ini (1) ekspor LNG sebesar 20,6  juta ton, senilai 15 milyar USD, (2) Gas lain untuk bahan bakar sebesar  6,8 juta ton, senilai 5,2 milyar USD, (3)  bahan dasar untuk aspal sebesar 3,1 juta ton, senilai 2,3 milyar USD,(4) non BBM lainnya 1,8  juta Ton, senilai 1 milyar USD.
Ekspor LNG terbesar dari Kalimantan Timur, setelah itu IRJABAR, dan NAD terkecil.

Dari ekspor dari daerah  NAD cendrung menurun . Dari daerah  IRJABAR merupakan sumber yang relative baru, sehingga cendrung meningkat.
tabel
Ekspor LNG

Dlm juta ton
Dlm milyar USD
Irian Jaya Barat
7,3
3,1
 Kalimantan Timur
12,2
10,9
Nangroe Aceh Darussalam
1,1
1,0
total
20,6
15,0


tabel
Ekspor gas lain untuk bahan bakar

Dlm juta ton
Dlm milyar USD
Kepulauan Riau
6,8
5,2


Tabel
Ekspor bahan dasar aspal

dlm 000 ton
dlm 000 USD
Banten
7,8
1,9
Irian Jaya Barat
35,3
27,0
Irian Jaya Barat
23,6
14,0
Jawa Timur
102,3
75,1
Kalimantan Timur
2.053,8
1.470,2
Riau
500,5
409,0
Sumatera Selatan
429,5
307,272
total
3.152,9
2.304,5


Kesimpulan.

Ekspor Minyak Mentah didominasi pada 4 daerah provinsi, yaitu Riau, Kalimantan Timur, Kepulauan Riau, dan jawa Barat, sebesar 78,2  persen dari total ekspor minyak mentah.

EKSPOR  BBM dilakukan hanya untuk memenuhi perjanjian bilateral terhadap beberapa Negara.

Ekspor Non BBM mayoritas adalah Gas yaitu LNG dan gas lainnya sebesar 85 persen dari nilai total ekspor Non BBM.  Dan daerah eksportirnya adalah Riau, Kalimantan Timur, NAD. Dan Kepulauan Riau.

Senin, 06 Mei 2013


KILANG MINYAK DI INDONESIA
YUHALS

Indonesia memiliki 10 (sepuluh) kilang minyak, 8 kilang milik  PT Pertamina (Persero) dan 2 kilang milik Badan Usaha swasta dengan total kapasitas pengolahan kilang minyak adalah sebesar 1,156 juta barrel per hari atau 420,1 juta barel pertahun.

kapasitas kilang PT Pertamina yaitu Pangkalan Brandan berkapasitas pengolahan 4,5 ribu barrel per hari (sudah tidak beroperasi sejak 2007), Dumai (127 ribu barrel per hari atau 46,4 juta barel pertahun), Sungai Pakning (50 ribu barrel per hari atau 18,2 juta barel pertahun ), Musi (127,3 ribu barrel per hari atau 46,5 juta barel pertahun), Cilacap (348 ribu barrel per hari atau 127,0 juta barel pertahun), Balikpapan (260 ribu barrel per hari atau 94,9 juta barel pertahun), Balongan (125 ribu barrel per hari atau 45,6 juta barel pertahun ), serta Kasim (10 ribu barrel per hari atau 3,6 juta barel pertahun ). Selain itu terdapat kilang minyak yang dikelola Pusdiklat Migas Cepu berkapasitas 3,8 ribu barrel per hari atau 1,4 juta barel pertahun . kilang minyak yang dimiliki badan usaha swasta yaitu PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI) berlokasi di Tuban dengan kapasitas 100 ribu barrel per hari atau 36,5 juta barel pertahun bahan baku kondensat).  dan  Tri wahana Universal ( TWU )  belum ada datanya. *) diolah dari ditjen Migas

Dari 10 kilang minyak yang berproduksi di Indonesia Tahun 2011 , memproduksi 10 jenis BBM dan 36 jenis non BBM. Dengan Produksi BBM sebesar 240,3 juta barel atau sebesar 70,1 persen, dan 102,5 juta barel non  BBM atau sebesar 29,9 persen, total produksi BBM dan Non BBM sebesar 342,8 juta barel.
Untuk memproduksi BBM dan Non BBM tersebut dibutuhkan pasokan sebesar   296,9 juta barel minyak mentah ( produksi domestik   218,6 juta barel, impor  78,3 juta barel) atau 81,2 persen, kondensate sebesar 24,1 juta barel atau 6,6 persen, dan  bahan lain sebesar 44,8 juta barel atau 12,2 persen. total pasokan 365,8 juta barel.
Secara persentase dari pasokan sebesar 365,8 juta barel menghasilkan 342,8 juta barel BBM dan Non BBM, atau sebesar  93,7 persen dari pasokan bahan.

Produktivitas
Produktivitas diukur dari  pasokan bahan di bagi kapasitas  terpasang kilang. makin tinggi  ratio yang dihasilkan berarti makin produktif kilang yang bersangkutan.
Pasokan total kilang Indonesia  tahun 2011 sebesar 365,8  juta barel, sedang kapasitas produksi 420,1  juta barel pertahun. Produktivitas Sebesar 87,1 persen,  tingkat produktivitas cukup baik.

Tingkat produktivitas kilang dumai sebesar 98,8 persen,  kilang S.Pakning sebesar 79,2 persen, kilang Musi sebesar 79,2 persen, cilacap sebesar 84,0 persen, Balikpapan sebesar 90,0 persen, balongan 127,5 persen, kasim 0,2 persen, cepu 25,0 persen, TPPI sebesar 55,5 persen.

Kilang minyak yang miliki tingkat produksi besar relative memiliki tingkat produktivitas cukup baik. Pada Kilang balongan 127,5 persen, berarti sudah over kapasitas. Hal ini dapat mempercepat proses kerusakan mesin, karena  berproduksi diatas kemampuan.
 Kilang minyak yang memiliki produktivitas dibawah 75 persen, harus dapat meningkatkan produktivitasnya, karena tingkat produktivitas yang rendah akan mengakibatkan kerugian .

Produksi BBM
Produksi BBM tahun 2006 sebesar  251,0 juta barel, tahun 2009 sebesar 254,9 juta barel berarti  naik sebesar 1,5 persen,  dan tahun 2011 sebesar 240,3 juta barel, berarti  turun 4,3 persen dibanding tahun 2006.

Dari BBM yang di produksi tahun 2011, ada 2 jenis yang terbesar adalah premium sebesar 64,4 juta barel atau 26,8 persen, dan solar (HSD) sebesar 119,6 juta barel atau sebesar 49,8 persen. Kedua jenis ini diproduksi sebesar 184,0 juta barel atau   76,6 persen dari produksi BBM nasional.

Produksi BBM lainnya adalah avtur  17,1 juta barel, kerosene 14,4 juta barel, diesel oil/IDO  1,4 juta barel, fuel oil/IFO 20,3 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,4 juta barel, pertadex 0,03 juta barel

Produksi BBM masing masing kilang tahun 2011 adalah kilang dumai 36,1 juta barel atau sebesar 15 persen, kilang s.pakning sebesar 4,0 juta barel atau sebesar 1,7 persen, kilang Musi sebesar 23,6 juta barel atau 9,8 persen, kilang cilacap sebesar 80,0 juta barel atau 33,3 persen, kilang Balikpapan sebesar 61,5  juta barel atau 25,6 persen, kilang Balongan sebesar 31,7  juta barel atau 13,2 persen, kilang kasim sebesar 3 ribu barel, kilang cepu sebesar 162  ribu barel atau 0,1 persen, kilang TPPI sebesar 3,2 juta barel atau 1,3 persen, dan kilang TWU tidak ada data. Untuk produksi BBM terbesar adalah kilang cilacap, setelah itu kilang balik papan, Dumai , dan Balongan.

Produksi Non BBM
Jenis produksi non BBM  yang terbesar adalah naptha sebesar 28,6 juta barel atau 27,9 persen, LSWR sebesar 24,0 juta barel atau 23,4 persen, HOMC sebesar 11,9 juta barel atau  11,6 persen, dan LPG sebesar 9,1 juta barel atau 8,9 persen. jadi produksi LPG pada kilang minyak menduduki  urutan ke empat.

Produksi Non BBM dari kilang minyak sangat menarik, karena perkembangannya sangat cepat tahun 2006 produksi sebesar 20,1 juta barel, tahun 2009 naik menjadi 88,2 juta barel berarti  naik 439 persen atau 4 kali lebih, dan tahun 2011 naik menjadi 102,5 juta barel atau naik 510 persen dibanding  tahun 2006. Dengan peningkatan produksi non BBM yang cukup besar dan tingkat produktivitas yang tinggi pada kilang minyak, maka akan mengurangi produksi BBM, karena sebagian kapasitas produksi dialihkan untuk produksi Non BBM.

Tidak semua kilang memproduksi semua jenis produk non BBM, tergantung dari : spesifikasi  minyak mentah yang dipasok, peralatan dari kilang, dan optimalisasi produk.
Dari 36 produk yang dihasilkan oleh kilang ada 13 jenis produk non BBM yang produksinya diatas 1 juta barel tahun 2011. yaitu (1) LPG, (2) Lube base oil, (3) aspalt, (4) Naptha, (5)  LSWR, (6) LSFO,(7) Green coke, (8) HOMC, (9) propylene,  (10) benzene, (11) pararaxylene, (12) unconverted oil, (13) decant oil. Prodvuksi ke 13 jenis non BBM ini tahun 2011 sebesar 100,4 juta barel, atau 97,9 persen dari total produk non BBM.
Produksi LPG tahun 2011 oleh kilang dumai  0,4 juta barel, musi 1.2 juta barel, cilacap 1.3 juta barel, Balikpapan sebesar 1,3 juta barel, balongan 4,3 juta barel, TPPI 0,9 juta barel. Total  9,1 juta barel.

Produk Lube base oil di produksi kilang cilacap sebesar 3,0 juta barel. Aspalt diproduksi oleh cilacap 2,0 juta barel.
Naptha diproduksi oleh kilang dumai 0,3 juta barel, s.pakning 0,8 juta barel, Musi  6,2 jura barel, cilacap 8,9 juta barel, Balikpapan 6,7 juta barel, cepu 0,09 juta barel, TPPI 5,6 jta barel, total 28,6 juta barel.
LSWR diproduksi oleh dumai 0,2 juta barel, s.pakning 7,0 juta barel, cillacap 3,8 juta barel, balik papan 13 juta barel, total 24 juta barel. LSFO diproduksi oleh musi sebesar 4,6 juta barel.
Green coke diproduksi oleh  Dumai 2,2 juta barel. HOMC diproduksin oleh balongan sebesar 11,9 juta barel. Propylene diproduksi oleh balongan 1,9 juta barel. Benzene diproduksi oleh TPPI sebesar 2,2 juta barel. Paraxylene diproduksi oleh TPPI sebesar 4,4 juta barel. Unconverted oil diproduksi oleh dumai 2,4 juta barel. Decant oil diproduksi oleh balongan  sebesar 4,1 juta barel.

Kondisi masing-masing kilang.
Secara persentase tahun 2011 dari pasokan (input) sebesar 365,8 juta barel menghasilkan (output) 342,8 juta barel ( BBM dan Non BBM), atau sebesar  93,7 persen.

kilang Dumai.
Bahan baku yang dipasok berupa  minyak mentah ( crude oil ) sebesar 37,8 juta barel, bahan lainnya 8,0 juta barel, total 45,8 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 41,6 juta barel atau  90,8 persen. berupa BBM sebesar  36,1 BBM atau 86,7 persen, dan non BBM sebesar 5,5 juta barel atau 13,3 persen.
BBM yang di hasil oleh kilang Dumai adalah  avtur 2,7 juta barel atau 7,5 persen. premium  6,4 juta barel atau 17,8 persen. kerosene 0,8 juta barel  atau 2,3 pesen. gas oil/HSD/ solar 30,0 juta barel atau 26 persen. fuel oil/MFO 0,2 juta barel atau 0,4 persen.
Produk non BBM yang dihasilkan sebesar 5,5 juta barel . berupa  LPG  sebesar 0,4 juta barel atau 8,0 persen. naptha 0,3 juta barel atau 5,3 persen. LSWR 0,2 juta barel atau 3,2 persen. green coke 2,4 juta barel atau 43,3 persen.

Kilang S.Pakning
Bahan baku yang dipasok tahun 2011. minyak mentah ( crude oil ) adalah sebesar 12,2 juta barel, bahan lainnya 0,1 juta barel, total 12,4 juta barel. Otput yang dihasilkan sebesar 11,9 juta barel atau sebesar   96  persen. Berupa BBM sebesar  4,0 juta barel atau 33,7 persen, dan Non BBm sebesar 7,9 juta barel atau 66,3 persen.
BBM yang dihasilkan berupa kerosine sebesar  1,5 juta barel, gas oil/HSD/ solar sebesar 2,5 juta barel.
Produk Non BBM yang dihasilkan Naptha 0,8 juta barel, LSWR sebesar  7,0 juta barel.


Kilang Musi
Pasokan minyak mentah sebesar 29,3 juta barel, condensate sebesar 3,9 juta barel, bahan lainnya sebesar 3,7 juta barel. Total pasokan bahan sebesar 36,8 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah BBM sebesar 23,6 juta barel, Non BBM sebesar 12,3 juta barel. Total produksi sebesar 35,9 juta barel, Jadi berarti  64,1 persen .
BBM yang dihasilkan kilang musi sebesar    23,6 ,juta barel. Terdiri dari avtur 0.4 juta barel, premium 6,9 juta barel, kerosene 1,2 juta barel, gas oil/hsd/solar 10,7 juta barel, diesel oil/ido/mdf  0,4 juta barel, fuel oil/ifo/mfo  4,1 juta barel.

Non BBm yang diproduksi kilang musi sebesar 12,3 juta barel, terdiri dari LPG 1,2 juta barel, Naptha 6,2 juta barel, LSFO 4,6 juta barel, lainnya 0,3 juta barel.

kilang cilacap
Pasokan kilang cilacap sebesar minyak mentah 44,8 juta barel, impor minyak mentah 55,9 juta barel, bahan lainnya 5,9 juta barel, total pasokan sebesar 106,7 juta barel. Mengahasilkan BBM sebesar 80 juta barel, dan Non BBM sebesar 19,7 juta barel. Total produksi 99,7 juta barel, atau 93,5 persen.

BBM yang dihasilkan terdiri dari avtur 8,4 juta barel, Premium 21,2 juta barel, kerosene 3,2 juta barel, gas oil/hsd/solar 30,3 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,8 juta barel, fuel oil/dco/ifo 16,0 juta barel. Total produk BBM sebesar 80,0 juta barel.

Produksi non BBM,  LPG 1,3 juta barel, lube base oil 3,1 juta barel, asphalt 2,0 juta barel, naptha 8,9 juta barel, LSWR 3,8 juta barel, lainnya 0,6 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 19,7 juta barel.

kilang Balikpapan
Pasokan kilang Balikpapan , minyak mentah sebesar 79,1 juta barel ( minyak domestik  56,7 juta barel , minyak mentah impor 22,4 juta barel ) , bahan lain 6,3 juta barel. Total pasokan sebesar 85,4 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar 61,5 juta barel, dan non BBM sebesar 21,1 juta barel. Total produksi sebesar 82,6 juta barel, atau 96,7 persen.

BBM yang dihasilkan terdiri dari avtur sebesar 5,5 juta barel,premium 14,3 juta barel, kerosene 7,4 juta barel, gas oil/hsd/solar 33,9 juta barel, diesel oil/ido/mdf 0,1 juta barel, fuel oil/ifo 0,01 juta barel. Total produkssi bbm sebesar 61,2 juta barel.

Produksi non BBM terdiri dari  LPG sebesar 1,0 juta barel, naptha 6,7 juta barel, LSWR 13 juta barel, lainya 0,5 juta bare. Total produksi non BBM sebesar 21,1 juta barel. atau  92,4 persen.

kilang balongan
Pasokan kilang minyak balongan terdiri dari minyak mentah 37,5 juta barel, bahan lainnya 20,7 juta barel. Total pasokan sebesar 58,2 juta barel. Menghasilkan produk BBM sebesar  31,7
Juta barel,  dan produk non BBM sebesar 22,1 juta barel. Total produksi sebesar 53,8 juta barel.

BBM yang diproduksi  premium 15,7 juta barel, kerosene 0.2 juta barel, gas oil/HSD/Solar 12,8 juta barel, pertamax plus 0,7 juta barel, pertamax 2,2 juta barel, pertadex 0,03 juta barel, total BBM sebesar  31,7 juta barel.

Produksi non BBM  terdiri dari LPG sebesar 4,3 juta barel, HOMC sebesar 11,9 juta barel, propylene sebesar 1,9 juta barel, Decant oil sebesar 4,1 juta barel. Total produksi non BBM sebesar 22,1 juta barel.

Kilang TPPI
Pasokan yang digunakan pada kilang TPPI tidak menggunakan minyak mentah, yang digunakan  adalah kondensate  sebesar  20,2 juta barel. Produk yang dihasilkan adalah  BBM sebesar 3,2 juta barel, dan non BBM sebesar 13,7 juta barel. total yang diproduksi sebesar 16,9 juta barel, atau 83,7 persen.

BBM yang diproduksi adalah  Gas oil/HSD/ Solar sebesar 3,2 juta barel.
Produksi non BBM adalah LPG sebesar 0,9 juta barel, Naptha sebesar 5,6 juta barel, Benzene sebesar 2,2 jura barel, paraxylene sebesar 4,4 juta barel , produk lainnya 0,6 juta barel.Total produk Non BBM sebesar  13,7 juta barel.

Kilang Kasim dan Cepu relative kecil. kilang Tri Wahana Universal ( TWU ) tidak ada data.

Kesimpulan

1.        Dari 10 kilang minyak yang ada 1 kilang tidak memberikan laporan   ( TWU), 1 kilang kurang aktif ( kasim), 1 kilang skala kecil ( kilang cepu ). Untuk 7 ( tujuh) produktivitasnya baik.

2.        Semua kilang menjadikan minyak mentah produksi domestic sebagai bahan baku, kecuali TPPI menggunakan kondensat domestic, dan 2 (dua ) kilang menggunakan minyak mentah impor sebagai tambahan pasokan bahan baku yang kurang, yaitu kilang cilacap dan kilang Balikpapan. Dari kondisi ini bila terjadi pengurangan ekspor minyak mentah produksi domestik maka akan dapat diserap oleh kilang minyak yang ada. Bila pemerintah akan membangun kilang baru berarti pasokan minyak mentahnya didapat dari impor.

3.        Produksi BBM terjadi penurunan walaupun kecil, dan penurunan kapasitas untuk produksi BBM ini di alaihkan untuk meningkatkan produksi non BBM.

Jakarta, 4 April 2013

Rabu, 27 Maret 2013

PRODUKSI MINYAK MENTAH INDONESIA


PRODUKSI MINYAK MENTAH INDONESIA
Oleh : Yuhals


Produksi minyak mentah (crude oil).
Produksi minyak bumi tergantung jumlah cadangan yang ada dalam perut bumi dan teknologi yang digunakan. Cadangan minyak diperut bumi berupa cekungan atau secara visual seperti mangkok. Luas cekungan dan dalamnya merupakan cermin dari banyaknya cadangan yang dimiliki.  Teknologi pemboran dibutuhkan agar lubang sumur berada tepat ditengah cekungan, atau  mendekati titik terdalam dari cekungan, sehingga pengambilan minyak secara optimal dan murah. 
Cadangan minyak dalam waktu tertentu akan habis . berapa lama tergantung besarnya cadangan dan jumlah minyak yang dipompa keluar dari perut bumi.  Jumlah dan waktu akan membentuk  curva , yaitu pada awal produksi kecil, lalu meningkat sampai saat tertentu akan menurun dan selanjutnya akan habis. Setelah terjadi penurunan produksi, maka biaya operasional akan meningkat karena dibutuhkan tehnologi tertentu agar minyak bisa dipompa .
Saat minyak bumi di pompa dari  perut bumi, maka yang akan keluar adalah minyak mentah ( crude oil ) dan Gas. Sesuai dengan UUD 45 bahwa Bumi dan isinya adalah milik Negara dan digunakan sebesar-besarnya untuk kesejahtraan rakyat. Oleh karena itu seluruh pengelolaannya menjadi kewenangan pemerintah.
Dalam menjalankan kewenangan ini,  pemerintah melakukan penambangan langsung, yang dilaksanakan oleh PT Pertamina sebagai badan usaha milik Negara,  dan bekerjasama kontrak bagi hasil produksi ( contract production sharing ) dengan perusahaan swasta , baik swasta nasional maupun swasta asing.  Pada kontrak produksi bagi hasil,  kontraktor KPS sebagai operator penambangan, akan mendapatkan bagian berupa minyak. Pembagian ini dilakukan dengan cara minyak yang didapat akan dipotong biaya2 operasional, dan sisanya dibagi antara pemerintah dan kontraktor KPS, dengan persentae tertentu, sesuai dengan kontrak yang disepakati.
Produksi minyak mentah Indonesia, tahun 2006 sebesar  322,3 juta barel, tahun 2009 sebesar 301.7 juta barel, dan tahun 2012 sebesar 279.4 juta barel. dari sini terlihat bahwa produksi minyak mentah Indonesia cendrung menurun. Dalam waktu  6 tahun  terjadi penurunan produksi minyak mentah sebesar   = 42.9 juta barel atau turun sebesar 13 persen, Kalau diambil rata2 pertahun terjadi penurunan sebesar  2,17  persen.
Pendapat  seorang geologis Indonesia Rovicky Dwi Putrohari “Dalam 10 tahun terakhir penemuan migas sangat rendah, sedangkan produksinya juga menurun. Kalau dilihat, hal ini sebagai sebuah gejala yang saling berhubungan. maka dalam 10 tahun kedepan produksi migas sulit untuk dinaikkan. Bukan sebuah kemustahilan menaikkan produksi dengan enhance recovery atau tehnik penyedotan yang mutakhir, tetapi usaha seperti ini juga tidak akan bertahan lama, tetap harus “menemukan yang baru”


Produksi Pertamina
Pada tahun 2012 produksi nasional sebesar 279,4juta barel,  PT Pertamina memproduksi sebesar  52,6 juta barel atau sebesar 18,83 persen dari minyak nasional.

Dibandingankan  Produksi minyak tahun 2006 dengan tahun 2012,   Produksi PT  Pertamina terjadi kenaikan sebesar 10.5 juta barel atau sebesar 25 persen, sedangkan produksi nasional tahun 2006 sebesar 322,3 juta ton, dan tahun 2012 sebesar 279,4 juta ton, berarti  produksi nasional terjadi penurunan sebesar  42,9 juta barel  atau sebesar 13,3 persen. Dari sisi peranan PT Pertamina untuk meningkatkan produksi minyak telah dilakukan dengan baik, akan tetapi walaupun produksi PT Pertamina terjadi kenaikan, tidak dapat menutupi penurunan dari produksi nasional.

Produksi kontraktor Production Sharing( KPS )
Produksi minyak mentah yang dihasilkan oleh KPS  tahun 2012 ada di 41 lokasi, yaitu   27 lokasi wilayah produksi darat ( onshore ) dengan produksi sebesar 156.72 juta barel atau sebesar 65 persen, dan 14 lokasi produksi di lepas pantai/laut ( offshore ) dengan produksi  70.07 juta  barel atau sebesar 35 persen. Total produksi KPS sebesar 226.8 jt barel.
Penyisiran terhadap KPS di 41 wilayah produksi, terdapat 17 wilayah KPS besar yang produksi minyak diatas 2 juta barel pertahun. Dengan lokasi 8 di darat( onshore ) , produksi 152,14 juta barel, dan 9 lokasi di laut ( offshore ) dengan produksi 67,23 jt barel. Total produksi KPS besar 152.14  jt barel, berarti 96,73 persen produksi KPS. Dibandingkan produksi nasional,  produksi KPS besar ini sebesar 78,51 persen dari produksi nasional,sehingga perubahan pada KPS besar ini sangat mempengaruhi produksi minyak mentah nasional.
Dari 8 KPS Besar darat (on shore), terjadi penurunan produksi pada 7 KPS, dan yang mengalami kenaikan 1 KPS, yaitu KPS Mobil Cepu di wilayah Jatim, dan KPS ini baru berproduksi tahun 2009 sebesar 1,21 juta barel,  naik 6,77 juta barel tahun 2010 dan tahun 2012 sebesar 8,18 juta barel.
7 KPS darat yang mengalami penurunan , tahun 2006 produksi 193,92 juta barel, tahun 2007 turun menjadi 182,51 juta barel dan turun terus sampai tahun 2012 produksi sebesar 143,96 juta barel, berarti terjadi penurunan sebesar 41,78 juta barel, atau   turun sebesar 21.54 persen  dan penurunan ini tidak dapat ditutupi dengan 1 KPS yang baru produksi.
KPS besar Laut (Offshore) sebanyak 9 KPS. Total produksinya tahun 2006 sebesar 78,37 juta barel, tahun 2007 turun 66,74 juta barel, tahun 2008 naik 78,45juta baral, tahun 2009 turun, dan seterusnya turun sampai tahun 2012 dengan produksi sebesar 67,23 juta barel, berarti dibandingkan tahun 2006, pada tahun 2012 terjadi penurunan sebesar  11,14 juta barel, atau  penurunan sebesar 14,21 persen.
Dari 9 KPS besar laut ( off shore ), yang mengalami penurunan sebanyak 5 KPS dengan jumlah produksi tahun 2006 sebesar  58,05 juta barel, tahun 2012 menjadi   39,11 juta barel . berarti turun sebesar   18,94 juta barel.   KPS besar laut ( offshore ) yang mengalami kenaikan sebanyak 4 KPS,    tahun 2006 produksinya sebesar 20,32 juta barel , dan tahun 2012 sebesar 28,12 juta barel, berarti naik sebesar    7,80 juta barel. Dari 4 KPS yang mengalami kenaikan  1 KPS yang baru berproduksi tahun 2009 yaitu  KPS Hess( Indonesia Pangkah) Ltd. 3 KPS lainnya adalah KPS lama.
Besarnya kenaikan dari 4 KPS laut ( offshore ) yang mengalami kenaikan produksi lebih kecil dibandingkan dengan penurunan produksi 5 KPS yang mengalami penurunan, sehingga secara keseluruhan KPS Besar Laut ( off shore ) mengalami penurunan.

Kesimpulan
Produksi Minyak nasional cendrung menurun, hal ini disebabkan terjadinya penurunan produksi pada KPS besar, baik yang berada di darat ( on shore ) maupun yang di laut ( offshore ).  Terdapat kenaikan pada beberapa KPS besar, akan tetapi jumlah produksi mereka jauh lebih kecil dibandingkan KPS besar yang mengalami penurunan.   KPS besar yang mengalami penurunan,  memiliki  sumur minyak yang relative umurnya sudah tua dan cadangannya sudah sangat menyusut. 

 Temuan sumur baru produksi dari tahun 2006 sampai 2012  ada pada  2 KPS besar, 1 KPS di darat ( onshore ), dan 1 KPS laut ( offshore ). akan tetapi produksi dan cadangan mereka relative kecil dibandimgklan KPS yang mengalami penurunan. Sehingga peranan mereka belum dirasakan dalam produksi minyak nasional.

Dengan kondisi produksi minyak yang ada,  maka diperkirakan untuk tahun mendatang penurunan produksi minyak nasional akan tetap berlangsung secara sangat berarti dan untuk jangka yang cukup panjang.